Waspada Jika Si Kecil Lebih Suka Nonton TV daripada Mendengarkan Dongeng Anak

Memangnya kenapa jika sang buah hati suka nanton TV tapi tidak suka mendengarkan dongeng anak? Bagi ibu yang hidup di dunia yang serba digital seperti saat ini, tentu hal tersebut tidak terasa aneh. Namun, bagi pakar psikologi anak, ada hal yang patut untuk dikhawatirkan.

Hal ini berawal dari efek negatif dari menonton TV bagi anak. Kemudian dibandingkan dengan begitu pentingnya membacakan dongeng untuk anak.

Ibu pasti sudah pernah mendengar pentingnya membacakan dongeng sebelum tidur. Pakar psikolog anak sudah menjelaskan tentang hal tersebut di situs Ibu dan Balita. Sayangnya, tidak banyak yang mampu mempraktikkannya. Apalagi jika anak lebih suka menonton TV sebelum tidur. Bisa saja hal tersebut dikarenakan kebiasaan orang tua juga sehingga membuat anak meniru kebiasaan tersebut.

Efek Negatif Anak Terlalu Sering Menonton TV

Sebelumnya, harus diakui banyak hal positif yang bisa anak ambil dari kegiatan menonton TV. Apalagi jika acara TV yang ia tonton tersebut bersifat edukatif. Contohnya saja acara TV tentang mengenal binatang, menari dan menyanyi, serta acara anak-anak yang mendidik lainnya.

Terlepas dari hal tersebut, ada yang patut untuk diantisipasi, yaitu kecanduan acara TV. Banyak sekali anak yang kecanduan menonton TV sehingga ia tidak memiliki ketertarikan untuk melakukan kegiatan lain. Ia tidak lagi suka bertemu dengan teman-teman dan bermain bersama. Ini sama seperti ketika anak kecanduan bermain video game.

Jika itu yang terjadi, anak cenderung pasif. Ia tidak mau aktif bergerak untuk melakukan permainan yang bersifat gerakan. Akibatnya, perkembangannya khususnya berkembangan fisik bisa saja terganggu. Tentu ibu tidak menginginkan hal tersebut, bukan?

Belum lagi dengan kesehatan mata. Banyak anak yang masih kecil harus memakai kaca mata karena kebiasaan menonton TV sambil tidur. Sejak kecil, orang tua membiarkan anak menonton TV dengan posisi tidur. Bahkan, tidak sedikit orang tua yang harus menidurkan anak sambil memutarkan film kartun di TV.

Hal itulah yang menyebabkan para pakar psikolog anak khawatir jika anak terlalu sering menonton TV. Apalagi hal tersebut hingga membuat anak tidak suka mendengarkan cerita anak. Ini yang patut untuk dikhawatirkan.

Agar Anak Suka Mendengar Dongeng Anak

Anak tidak suka mendengarkan ibu membacakan dongeng bukan berarti ibu tidak perlu melakukan apapun. Tentu saja upaya semaksimal mungkin harus dilakukan.

  • Kurangi Frekuensi Anak Menonton TV

Bukan melarang, tapi mengurangi frekuensi menonton TV. Dan isi waktu senggang dengan membacakan cerita.

Yang paling direkomendasikan adalah tidak membiarkan anak menonton TV ketika ingin tidur. Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, menonton TV dengan posisi tidur sangat kurang baik untuk kesehatan mata.

Akan lebih baik jika kegiatan menonton TV diganti dengan membacakan buku cerita anak. Bagaimana jika anak tidak suka? Ibu harus tahu menerapkan tips berikutnya.

  • Pilih Buku Berwarna dan Bergambar

Agar anak tertarik mendengarkan cerita, ibu bisa membelikan buku cerita bergambar yang penuh dengan warna-warni. Buku seperti ini setidaknya membuat anak tertarik lebih dulu. Baru kemudian ibu bisa bacaan cerita atau dongeng di buku tersebut.

  • Mengajak Anak Ikut Bercerita

Selain membacakan dongeng anak, ibu bisa sesekali mengajak anak untuk berkomunikasi. Seperti contoh, ibu bisa menunjuk pada suatu gambar dan tanyakan gambar apa itu. Ibu juga bisa meminta menirukan kata tertentu yang ibu katakan berdasarkan cerita tersebut.

Hal ini bisa sangat membantu anak menambah kosakata baru. Lebih dari itu, anak juga bisa belajar bicara ketika saat itu sebenarnya waktu bagi anak belajar bicara.

Dan yang lebih penting lagi, dengan mengajak anak untuk ikut bercerita, anak tidak bosan dengan hanya mendengar saja. Ia juga ibu libatkan sehingga ia lebih senang mengikuti dongeng yang ibu ceritakan.

  • Melakukan Improvisasi

Apa itu improvisasi? Ini artinya pengembangan. Jadi, ibu tidak harus membacakan kata demi kata di buku cerita. Ibu bisa menambahkan cerita lain agar anak mudah menangkap maksud dari dongeng yang ibu sedang ceritakan.

Ibu juga bisa memberikan ilustrasi seperti mempraktekkan suara binatang ketika cerita tersebut tentang bintang. Ibu bisa cari improvisasi lainnya agar anak semakin mudah menangkap apa yang dimaksud di dalam dongeng tersebut.

Itulah beberapa hal yang bisa ibu coba. Semoga ibu berhasil membuat anak tertarik mendengarkan cerita anak.

Yang jelas, sangat penting sekali bagi si kecil untuk mendengarkan dongeng-dongeng untuk anak. Selain sebagai media untuk melatih bicara, ini juga cara yang tepat bagi ibu untuk menenamkan akhlak atau budi pekerti yang mulai. Di setiap cerita, pasti ada intisari yang bisa ibu sampaikan. Berikan intisari atau pesan moral yang sebaiknya dipelajari oleh sang buah hati seperti dilarang berbohong, harus menjadi anak yang rajin gosok gigi, harus buang sampah di tempatnya, dan lain sebagainya.

Dan manfaat menceritakan dongeng anak ini tidak hanya bagus saat anak masih kecil saja. Ketika dewasa pun anak akan merasakan manfaat tersebut. Ia merasakan kedekatannya dengan sang ibu lantaran selama masih kecil ia merasa mendapatkan waktu yang terbaik bersama sang ibu. Dan ini momen yang akan membekas hingga anak dewasa nanti.

Jadi, tidak ada alasan bagi ibu untuk tidak meluangkan waktu membacakan dongeng. Setidaknya ibu sisakan sedikit waktu untuk menghantarkan si kecil tidur dengan cara membacakan buku dongeng anak.