Siapa Yang Sebenarnya Paling Bisa Menerapkan Pendidikan Karakter Anak?

Sering kali kita mendengar penerapan pendidikan karakter anak yang diterapkan di sekolah. Jadi, bukan sebuah kurikulum taraf internasional, program Bahasa Inggris aktif, atau klub membuat robot yang ditonjolkan. Banyak lembaga pendidikan yang lebih menekankan pada penerapkan pendidikan untuk memperkuat karakter anak untuk memikat orang tua agar mau menyekolahkan anak mereka di lembaga tersebut.

Sebegitu penting kah pendidikan karakter untuk anak? Tentu saja. Namun, hal tersebut tidak lantas sekolah yang harus dibebani. Dan jika ada pertanyaan siapakah yang bisa efektif menerapkan pendidikan karakter, jawabannya tentu saja orang tua.

Kok bisa? Tentu saja bisa. Jawaban sederhananya seperti ini. Karakter anak itu sangat dipengaruhi oleh keluarga di mana ia tinggal. Maka dari itu, siapa yang bisa menerapkan pendidikan karakter? Jelas kan jawabannya.

Contoh Mengajarkan Pendidikan Karakter Pada Anak

Lalu, muncul lagi pertanyaan, bagaimana orang menerapkan pendidikan karakter anak. Bagi mereka yang memiliki background pendidikan keguruan atau apapun yang berhubungan dengan anak, mereka pasti tahu. Yang menjadi masalah adalah bagaimana dengan orang tua yang sama sekali tidak memiliki latar belakang pendidikan seperti itu.

Tidak benar juga orang tua yang bisa membentuk karakter anak itu hanya mereka yang sudah memiliki latar belakang pendidikan tertentu. Sebenarnya, semua orang tua dengan latar belakang pendidikan apapun bisa kok menerapkannya. Asalkan mereka tahu bagaimana cara membentuk karakter anak, maka siapapun bisa. Termasuk ibu.

Yang sering dijadikan contoh adalah mengenai anak yang sering mengeluh. Tentu ibu melihat anak yang sering mengeluh itu kurang bagus. Bisa dikatakan anak yang sering mengeluh itu anak yang tidak memiliki karakter kuat dan baik.

Banyak orang tua yang menanyakan tentang hal ini. Bagaimana cara mengatasi anak yang suka mengeluh. Caranya tentu dengan membentuk karakter anak.

Ada banyak cara yang bisa ibu lakukan untuk memperkuat karakter anak sehingga ia tidak cengeng dan suka mengeluh. Berikut ini apa yang bisa ibu lakukan.

  • Dengarkan

Ibu bisa menebak kapan anak akan mulai mengeluh, entah ia mengeluhkan hal yang ada di sekolah atau mengeluh tentang apa yang dilakukan oleh sang kakak.

Jangan menghindar meskipun ibu tahu keluhan anak tersebut tidak bagus untuk dirinya. Jika ibu ingin anak berhenti mengeluh, dengarkan keluhannya. Jangan justru menghindar.

Dengan mendengarkan keluhan si kecil, ibu bisa tahu apa yang ia keluhkan dari sudut pandangnya sendiri. Dengan demikian, ibu bisa menjelaskan dari sudut pandangnya juga tentang apa yang ia keluhkan itu kurang tepat.

Contohnya, ketika mengeluh kakaknya tidak meminjami gadgetnya, ibu bisa jelaskan bahwa ia masih kecil dan belum boleh memegang gadget tersebut. Lalu, ibu bisa alihkan dengan memberikan mainan lainnya.

  • Ajarkan Bagaimana Mengatasi Masalah

Anak mengeluh karena mengangga suatu hal tersebut sebagai masalah. Kembali lagi jika menggunakan contoh di atas, yaitu anak mengeluh kepada ibu karena tidak boleh pinjam gadget kakaknya, maka jangan biarkan ia mengeluh terus menerus. Akan lebih baik jika ibu mengajarkan bagaimana cara mengatasi masalah tersebut. Ajari bagaimana ia bisa meminjam gadget kakaknya dengan baik sehingga kakaknya mau meminjami gadget tersebut.

Jadi, menamankan karakter anak itu tidak bisa dilakukan layaknya mengajarkan pelajaran di sekolah. Karakter anak yang baik dibentuk dengan cara memberikan teladan. Jadi, ibu harus memberikan contoh yang baik seperti selalu membuang sampah di tempat sampah, bangun pagi, menggosok gigi setiap bangun tidur dan akan tidur, dan lain sebagainya.

Peran Sekolah Dalam Menanamkan Karakter Anak

Meskipun ibu sebagai orang tua yang paling berperan dalam menerapkan pendidikan karakter pada anak, bukan berarti pihak sekolah sebagai lembaga pendidikan formal tidak memiliki peran sama sekali. Tetap saja peran guru di sekolah diperlukan karena sekolah merupakan rumah kedua sang anak.

Sekolah tidak boleh dianggap sebagai tempat belajar tapi juga sebagai tempat untuk menerapkan hal-hal yang baik. Maka dari itu, seolah yang ingin sekali benar-benar menerapkan pendidikan karakter selalu memberikan ruang kepada peserta didik untuk selalu berperilaku baik. Sekolah tidak hanya memberikan nilai kepada anak yang pintar saja, tapi juga nilai tersebut diberikan berdasarkan akhlaq atau perilaku.

Oleh sebab itu, saat ibu memilihkan sekolah untuk sang buah hati, pilihlah sekolah yang tidak hanya menilai peserta didik berdasarkan kecerdasannya saja. Guru harus memantai perkembangan perilaku sang anak, bukan hanya mengajarkan tentang pelajaran yang bersifat kognitif saja.

Jadi, sudah siapkan ibu menjadi orang tua yang bisa menerapkan pendidikan karakter ke anak? Para pakar pendidikan saat ini mengeluhkan anak-anak yang pintar tapi tidak memiliki karakter. Hal ini terlihat bagaimana generasi muda sekarang yang sungguh cerdas namun tidak memiliki empati pada persoalan sosial, misalnya, Mereka hanya fokus untuk memperkaya diri sendiri tanpa memperhatikan orang-orang yang kurang beruntung.

Lebih para lagi para generasi muda yang menggunakan kecerdasannya tersebut untuk hal yang negatif seperti mencuri dan juga korupsi. Hal ini disebabkan kemampuan intelegensinya tidak diimbangi dengan karakter yang kuat.

Hal inilah yang mendasari munculnya pendidikan karakter. Ini mulai diterapkan di setiap sekolah. Meskipun demikian, seperti penjelasan di atas, ibu sebagai orang tua lah yang lebih berperan dalam penerapan pendidikan karakter anak.