Siapa Yang Sebenarnya Paling Bisa Menerapkan Pendidikan Karakter Anak?

Sering kali kita mendengar penerapan pendidikan karakter anak yang diterapkan di sekolah. Jadi, bukan sebuah kurikulum taraf internasional, program Bahasa Inggris aktif, atau klub membuat robot yang ditonjolkan. Banyak lembaga pendidikan yang lebih menekankan pada penerapkan pendidikan untuk memperkuat karakter anak untuk memikat orang tua agar mau menyekolahkan anak mereka di lembaga tersebut.

Sebegitu penting kah pendidikan karakter untuk anak? Tentu saja. Namun, hal tersebut tidak lantas sekolah yang harus dibebani. Dan jika ada pertanyaan siapakah yang bisa efektif menerapkan pendidikan karakter, jawabannya tentu saja orang tua.

Kok bisa? Tentu saja bisa. Jawaban sederhananya seperti ini. Karakter anak itu sangat dipengaruhi oleh keluarga di mana ia tinggal. Maka dari itu, siapa yang bisa menerapkan pendidikan karakter? Jelas kan jawabannya.

Contoh Mengajarkan Pendidikan Karakter Pada Anak

Lalu, muncul lagi pertanyaan, bagaimana orang menerapkan pendidikan karakter anak. Bagi mereka yang memiliki background pendidikan keguruan atau apapun yang berhubungan dengan anak, mereka pasti tahu. Yang menjadi masalah adalah bagaimana dengan orang tua yang sama sekali tidak memiliki latar belakang pendidikan seperti itu.

Tidak benar juga orang tua yang bisa membentuk karakter anak itu hanya mereka yang sudah memiliki latar belakang pendidikan tertentu. Sebenarnya, semua orang tua dengan latar belakang pendidikan apapun bisa kok menerapkannya. Asalkan mereka tahu bagaimana cara membentuk karakter anak, maka siapapun bisa. Termasuk ibu.

Yang sering dijadikan contoh adalah mengenai anak yang sering mengeluh. Tentu ibu melihat anak yang sering mengeluh itu kurang bagus. Bisa dikatakan anak yang sering mengeluh itu anak yang tidak memiliki karakter kuat dan baik.

Banyak orang tua yang menanyakan tentang hal ini. Bagaimana cara mengatasi anak yang suka mengeluh. Caranya tentu dengan membentuk karakter anak.

Ada banyak cara yang bisa ibu lakukan untuk memperkuat karakter anak sehingga ia tidak cengeng dan suka mengeluh. Berikut ini apa yang bisa ibu lakukan.

  • Dengarkan

Ibu bisa menebak kapan anak akan mulai mengeluh, entah ia mengeluhkan hal yang ada di sekolah atau mengeluh tentang apa yang dilakukan oleh sang kakak.

Jangan menghindar meskipun ibu tahu keluhan anak tersebut tidak bagus untuk dirinya. Jika ibu ingin anak berhenti mengeluh, dengarkan keluhannya. Jangan justru menghindar.

Dengan mendengarkan keluhan si kecil, ibu bisa tahu apa yang ia keluhkan dari sudut pandangnya sendiri. Dengan demikian, ibu bisa menjelaskan dari sudut pandangnya juga tentang apa yang ia keluhkan itu kurang tepat.

Contohnya, ketika mengeluh kakaknya tidak meminjami gadgetnya, ibu bisa jelaskan bahwa ia masih kecil dan belum boleh memegang gadget tersebut. Lalu, ibu bisa alihkan dengan memberikan mainan lainnya.

  • Ajarkan Bagaimana Mengatasi Masalah

Anak mengeluh karena mengangga suatu hal tersebut sebagai masalah. Kembali lagi jika menggunakan contoh di atas, yaitu anak mengeluh kepada ibu karena tidak boleh pinjam gadget kakaknya, maka jangan biarkan ia mengeluh terus menerus. Akan lebih baik jika ibu mengajarkan bagaimana cara mengatasi masalah tersebut. Ajari bagaimana ia bisa meminjam gadget kakaknya dengan baik sehingga kakaknya mau meminjami gadget tersebut.

Jadi, menamankan karakter anak itu tidak bisa dilakukan layaknya mengajarkan pelajaran di sekolah. Karakter anak yang baik dibentuk dengan cara memberikan teladan. Jadi, ibu harus memberikan contoh yang baik seperti selalu membuang sampah di tempat sampah, bangun pagi, menggosok gigi setiap bangun tidur dan akan tidur, dan lain sebagainya.

Peran Sekolah Dalam Menanamkan Karakter Anak

Meskipun ibu sebagai orang tua yang paling berperan dalam menerapkan pendidikan karakter pada anak, bukan berarti pihak sekolah sebagai lembaga pendidikan formal tidak memiliki peran sama sekali. Tetap saja peran guru di sekolah diperlukan karena sekolah merupakan rumah kedua sang anak.

Sekolah tidak boleh dianggap sebagai tempat belajar tapi juga sebagai tempat untuk menerapkan hal-hal yang baik. Maka dari itu, seolah yang ingin sekali benar-benar menerapkan pendidikan karakter selalu memberikan ruang kepada peserta didik untuk selalu berperilaku baik. Sekolah tidak hanya memberikan nilai kepada anak yang pintar saja, tapi juga nilai tersebut diberikan berdasarkan akhlaq atau perilaku.

Oleh sebab itu, saat ibu memilihkan sekolah untuk sang buah hati, pilihlah sekolah yang tidak hanya menilai peserta didik berdasarkan kecerdasannya saja. Guru harus memantai perkembangan perilaku sang anak, bukan hanya mengajarkan tentang pelajaran yang bersifat kognitif saja.

Jadi, sudah siapkan ibu menjadi orang tua yang bisa menerapkan pendidikan karakter ke anak? Para pakar pendidikan saat ini mengeluhkan anak-anak yang pintar tapi tidak memiliki karakter. Hal ini terlihat bagaimana generasi muda sekarang yang sungguh cerdas namun tidak memiliki empati pada persoalan sosial, misalnya, Mereka hanya fokus untuk memperkaya diri sendiri tanpa memperhatikan orang-orang yang kurang beruntung.

Lebih para lagi para generasi muda yang menggunakan kecerdasannya tersebut untuk hal yang negatif seperti mencuri dan juga korupsi. Hal ini disebabkan kemampuan intelegensinya tidak diimbangi dengan karakter yang kuat.

Hal inilah yang mendasari munculnya pendidikan karakter. Ini mulai diterapkan di setiap sekolah. Meskipun demikian, seperti penjelasan di atas, ibu sebagai orang tua lah yang lebih berperan dalam penerapan pendidikan karakter anak.

Waspada Jika Si Kecil Lebih Suka Nonton TV daripada Mendengarkan Dongeng Anak

Memangnya kenapa jika sang buah hati suka nanton TV tapi tidak suka mendengarkan dongeng anak? Bagi ibu yang hidup di dunia yang serba digital seperti saat ini, tentu hal tersebut tidak terasa aneh. Namun, bagi pakar psikologi anak, ada hal yang patut untuk dikhawatirkan.

Hal ini berawal dari efek negatif dari menonton TV bagi anak. Kemudian dibandingkan dengan begitu pentingnya membacakan dongeng untuk anak.

Ibu pasti sudah pernah mendengar pentingnya membacakan dongeng sebelum tidur. Pakar psikolog anak sudah menjelaskan tentang hal tersebut di situs Ibu dan Balita. Sayangnya, tidak banyak yang mampu mempraktikkannya. Apalagi jika anak lebih suka menonton TV sebelum tidur. Bisa saja hal tersebut dikarenakan kebiasaan orang tua juga sehingga membuat anak meniru kebiasaan tersebut.

Efek Negatif Anak Terlalu Sering Menonton TV

Sebelumnya, harus diakui banyak hal positif yang bisa anak ambil dari kegiatan menonton TV. Apalagi jika acara TV yang ia tonton tersebut bersifat edukatif. Contohnya saja acara TV tentang mengenal binatang, menari dan menyanyi, serta acara anak-anak yang mendidik lainnya.

Terlepas dari hal tersebut, ada yang patut untuk diantisipasi, yaitu kecanduan acara TV. Banyak sekali anak yang kecanduan menonton TV sehingga ia tidak memiliki ketertarikan untuk melakukan kegiatan lain. Ia tidak lagi suka bertemu dengan teman-teman dan bermain bersama. Ini sama seperti ketika anak kecanduan bermain video game.

Jika itu yang terjadi, anak cenderung pasif. Ia tidak mau aktif bergerak untuk melakukan permainan yang bersifat gerakan. Akibatnya, perkembangannya khususnya berkembangan fisik bisa saja terganggu. Tentu ibu tidak menginginkan hal tersebut, bukan?

Belum lagi dengan kesehatan mata. Banyak anak yang masih kecil harus memakai kaca mata karena kebiasaan menonton TV sambil tidur. Sejak kecil, orang tua membiarkan anak menonton TV dengan posisi tidur. Bahkan, tidak sedikit orang tua yang harus menidurkan anak sambil memutarkan film kartun di TV.

Hal itulah yang menyebabkan para pakar psikolog anak khawatir jika anak terlalu sering menonton TV. Apalagi hal tersebut hingga membuat anak tidak suka mendengarkan cerita anak. Ini yang patut untuk dikhawatirkan.

Agar Anak Suka Mendengar Dongeng Anak

Anak tidak suka mendengarkan ibu membacakan dongeng bukan berarti ibu tidak perlu melakukan apapun. Tentu saja upaya semaksimal mungkin harus dilakukan.

  • Kurangi Frekuensi Anak Menonton TV

Bukan melarang, tapi mengurangi frekuensi menonton TV. Dan isi waktu senggang dengan membacakan cerita.

Yang paling direkomendasikan adalah tidak membiarkan anak menonton TV ketika ingin tidur. Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, menonton TV dengan posisi tidur sangat kurang baik untuk kesehatan mata.

Akan lebih baik jika kegiatan menonton TV diganti dengan membacakan buku cerita anak. Bagaimana jika anak tidak suka? Ibu harus tahu menerapkan tips berikutnya.

  • Pilih Buku Berwarna dan Bergambar

Agar anak tertarik mendengarkan cerita, ibu bisa membelikan buku cerita bergambar yang penuh dengan warna-warni. Buku seperti ini setidaknya membuat anak tertarik lebih dulu. Baru kemudian ibu bisa bacaan cerita atau dongeng di buku tersebut.

  • Mengajak Anak Ikut Bercerita

Selain membacakan dongeng anak, ibu bisa sesekali mengajak anak untuk berkomunikasi. Seperti contoh, ibu bisa menunjuk pada suatu gambar dan tanyakan gambar apa itu. Ibu juga bisa meminta menirukan kata tertentu yang ibu katakan berdasarkan cerita tersebut.

Hal ini bisa sangat membantu anak menambah kosakata baru. Lebih dari itu, anak juga bisa belajar bicara ketika saat itu sebenarnya waktu bagi anak belajar bicara.

Dan yang lebih penting lagi, dengan mengajak anak untuk ikut bercerita, anak tidak bosan dengan hanya mendengar saja. Ia juga ibu libatkan sehingga ia lebih senang mengikuti dongeng yang ibu ceritakan.

  • Melakukan Improvisasi

Apa itu improvisasi? Ini artinya pengembangan. Jadi, ibu tidak harus membacakan kata demi kata di buku cerita. Ibu bisa menambahkan cerita lain agar anak mudah menangkap maksud dari dongeng yang ibu sedang ceritakan.

Ibu juga bisa memberikan ilustrasi seperti mempraktekkan suara binatang ketika cerita tersebut tentang bintang. Ibu bisa cari improvisasi lainnya agar anak semakin mudah menangkap apa yang dimaksud di dalam dongeng tersebut.

Itulah beberapa hal yang bisa ibu coba. Semoga ibu berhasil membuat anak tertarik mendengarkan cerita anak.

Yang jelas, sangat penting sekali bagi si kecil untuk mendengarkan dongeng-dongeng untuk anak. Selain sebagai media untuk melatih bicara, ini juga cara yang tepat bagi ibu untuk menenamkan akhlak atau budi pekerti yang mulai. Di setiap cerita, pasti ada intisari yang bisa ibu sampaikan. Berikan intisari atau pesan moral yang sebaiknya dipelajari oleh sang buah hati seperti dilarang berbohong, harus menjadi anak yang rajin gosok gigi, harus buang sampah di tempatnya, dan lain sebagainya.

Dan manfaat menceritakan dongeng anak ini tidak hanya bagus saat anak masih kecil saja. Ketika dewasa pun anak akan merasakan manfaat tersebut. Ia merasakan kedekatannya dengan sang ibu lantaran selama masih kecil ia merasa mendapatkan waktu yang terbaik bersama sang ibu. Dan ini momen yang akan membekas hingga anak dewasa nanti.

Jadi, tidak ada alasan bagi ibu untuk tidak meluangkan waktu membacakan dongeng. Setidaknya ibu sisakan sedikit waktu untuk menghantarkan si kecil tidur dengan cara membacakan buku dongeng anak.

perkembangan janin

Luruskan Topik Diskusi Kesehatan Ibu Hamil ‘Panas’ Secara Ilmiah

Kondisi tubuh perempuan mengandung bisa dibilang sangat penting melebihi aspek lain dalam kehamilan. Mengingat janin adalah mahluk lemah yang hanya mampu bergantung pada ibunda, tentu faktor kondisi tubuh optimal perlu diperhatikan. Tak jarang, kasih sayang yang besar sampai memicu diskusi kesehatan ibu hamil yang cukup ‘panas’ tanpa henti di forum ibu hamil.

Rasa sayang memang bagus, hanya saja terkadang disertai rasa panik tanpa alasan. Terlebih jika ada sesama perempuan menyampaikan cerita masalah selama hamil atau kegagalan di kandungan sebelumnya. Hal ini bisa timbulkan ragam konspirasi tanpa fondasi yang justru berbahaya saat di praktekkan atau minimal ganggu ketenangan psikologis bunda.

Ilmiah merupakan jenis ilmu yang disenggelarakan demi temukan fakta dibalik suatu kejadian. Kesadaran akan segala sesuatu pasti berhubungan dan berdasar membuat segala sesuatu berlaber ilmiah bisa di pertanggung jawabkan. Daripada adu mulut dengan sesama perempuan karena dipicu rasa panic, lebih baik membahas kebenaran kabar burung dibalik masalah kehamilan.

  1. Obat atau tanpa obat
    Dua perempuan sesama lahiran secara normal, dengan berat badan bayi dan kondisi tubuh segar bugar. Lokasi bersalin dan dokter yang menangani sama persis tidak jauh berbeda. Satu-satunya hal yang memicu perdebatan di kalangan bunda yang sedang tunggu hari-H adalah lebih baik pakai obat atau tidak?

    Obat yang dimadsud disini adalah Epidural Anestesia, biasa disingkat EA. Sama dengan embel-embel Anestesia, fungsi utamanya adalah minimalisir rasa sakit pasien. Biasa digunakan untuk operasi berat yang membutuhkan banyak sayatan sehingga obat anti rasa sakit seperti anestesia digunanakan. Namun, EA punya fitur tersendiri dan hanya digunakan saat bersalin.

    Epidural Anestesia membuat pasien tidak akan merasa sakit tapi tetap sadar. Pendek kata, pasien akan seperti zombie, meski bukan berarti tidak mampu berpikir. Dengan pemakaian EA, masa persalinan diharap lebih mudah dan tidak terlalu menyakitkan. Siapa sangka bahwa opsi memudahkan bisa sebabkan perbincangan panjang?

    Namanya juga obat, pastilah epidural anestesia punya efek samping. Beberapa bunda temukan tekanan darah menurun, disertai rasa malas pada bayi kala menyusui. Tentu saja, bunda bisa tanyakan lebih lanjut pada ahlinya. Paling penting, tidak perlu berdebat lagi mengenai pilihan memakai obat atau tidak ketika bicara seputar persalinan.

  2. Bunda harus berhenti dari pekerjaan
    Wanita karir bukan mahluk langka di era modern. Bahkan, tuntutan ekonomi yang terus bertambah kian menuntut perempuan untuk tidak diam di rumah. Sayangnya, meski butuh sekalipun, banyak orang seolah ‘menodong’ seorang ibu untuk berhenti dari pekerjaannya.

    Kapasitas tubuh manusia memang beragam, sehingga jangan samakan satu perempuan dengan yang lain. Apabila seseorang merasa kuat dan mampu untuk tetap bekerja selama hamil maka keputusan ada di tangan bunda. Selama kondisi tubuh perempuan mengandung divonis mampu untuk bangun setiap pagi dan aktivitas maka tidak ada salahnya untuk bekerja mencari uang.

  3. Perlu dengarkan musik klasik
    Industri musik seolah tidak ada matinya. Alunan nada merdu nan teratur sungguh menyejukkan hati siapa saja yang mendengarnya. Beredar kabar pula bahwa bayi akan terlahir cerdas kalau sering dipedengarkan musik. Tak ayal, banyak bunda memburu lagu untuk bayi terutama genre klasik yang konon akan picu optimalisasi tumbuh kembang otak.

    Penelitian membuktikkan memang benar janin bisa mendengar suara eksternal pada usia kehamilan tertentu, lebih tepatnya tiga puluh tiga minggu. Memang, memanfaatkan momen untuk maksimalisasi perkembangan janin tidaklah buruk. Hal yang sering menjadi topik adalah tipe musik yang dinyalakan dekat janin, terutama persoalan genre klasik.

    Bagi pembaca yang gemar musik di luar klasik, mungkin terpikiran untuk memperdengarkan musik rock atau metal. Berita baiknya, belum ada penelitian konkrit yang menunjukkan adanya hubungan rusak karakter anak dengan memperdengarkan suara keras di kala masih mengandung. Namun demi mendukung perkembangan janin, tidak selalu musik jadi pilihan.

    Suara lembut bunda ayah sudah sangat cukup membantu janin berkembang. Pada dasarnya anak akan dekatkan diri pada suara yang sudah dikenal sejak lahir. Apabila musik adalah satu-satunya yang masuk ke telinga selama dalam kandungan dapat dipastikan respon musik jauh lebih tinggi dibanding terhadap orang tua. Pada akhirnya, hubungan harmonis antar anak dan orang tua akan ciptakan kemudahan dari segi akademis.

  4. Bunda harus makan banyak
    Mual dan muntah biasa terjadi di kalangan perempuan mengandung trimester pertama. Rasanya tidak aneh apabila perempuan mengeluh kepala terasa pening disertai rasa sakit di beragam bagian tubuh. Penderitaan kian bertubi-tubi ketika saran bunda harus memaksakan diri untuk makan terus membebani kepala.

    Namanya mual dan muntah, mau makan apapun juga percuma. Ibarat mengisi objek dalam kotak bolong di kedua sisi, nutrisi yang sudah susah payah dimakan hanya akan berbuah sia-sia. Jangan sampai, hanya karena perkataan orang yang tidak bisa dipertanggung jawabkan, kehamilan justru rusak.

    Penelitian menunjukkan makan sedikit namun sering adalah kunci mengatasi morning sickness alias mual dan muntah saat ibu hamil. Resikonya, kadang asupan gizi dan nutrisi memang tidak terpenuhi optimal terlebih saat bunda tidak punya ilmu apapun dalam menakar makanan. Berbicara dengan konsultan gizi dapat memakan biaya yang tidak sedikit. Di saat ragu, cobalah mencari susu ibu hamil dengan kandungan yang secara umum diberi acungan jempol pada mayoritas diskusi kesehatan ibu hamil.(HN)

Silang Pendapat Mengenai Game Online Sebagai Permainan Anak Mendidik

Sepertinya lebih banyak orang tua yang menganggap game online itu bukan tipe permainan anak mendidik. Tapi, anehnya kok justru semakin banyak ditemukan anak kecil yang sudah bermain game online. Setidaknya mereka sudah bisa memencet tombol pada gadget mereka dan bermain permainan yang ada di gadget tersebut.

Bahkan, tak jarang orang tua menghadihi anak mereka dengan gadget di hari ulang tahun atau di hari spesialnya. Hal tersebut membuat anak semakin intens bermain dengan gadget tersebut. Hingga akhirnya ada orang tua yang kecewa. Mereka kecewa lantaran anak lebih banyak menghabiskan waktu bermain game online. Bisa dikatakan anak tersebut mengalami kecanduan. Hal inilah yang menjadi alasan game online atau game yang ada di gadget itu bukan permainan anak yang mendidik.

Tapi, toh sebenarnya ada game online yang mendidik. Sudah banyak orang yang mereview tentang game seperti itu. Bahkan, semakin banyak developer game yang memang membuat game yang ditujukan untuk anak-anak kecil.

Lalu, bagaimana sebagai orang tua ibu harus bersikat tentang hal ini? Ada baiknya ibu melihat dari dua sisi yang berbeda, yaitu dari sisi yang menganggap game online adalah permaian yang tidak mendidik dengan yang menganggap sebagai permainan mendidik.

Kategori Game Online Mendidik

Sebenarnya, tidak sulit untuk mencari game online yang mendidik di gadget ibu sekarang ini. Searching dengan keyword game anak mendidik online atau keyword sejenisnya, maka akan muncul puluhan atau bahkan ratusan game online.

Namun, ibu tidak boleh asal pilih. Ibu harus tahu permainan edukatif itu bermacam-macam.

Maka dari itu, hal pertama yang sebaiknya ibu lakukan adalah menentukan game seperti apa yang ingin ibu pilihkan, apakah game yang mengasah otak, kejelian, motorik halus, atau apa.

Selain itu, penting juga untuk diperhatikan durasi game. Ini yang tak kalah penting. Banyak anak yang kecanduan game online dikaranakan untuk menyelesaikan game tersebut, dibutuhkan durasa waktu yang sangat lama. Akibatnya, anak tidak fokus untuk melakukan tugasnya dari sekolah namun lebih sering menghabiskan waktu bermain game tersebut.

Selain jenis serta durasi game, satu hal lagi yang tak kalah penting, yaitu game yang sesuai dengan usia sang anak. Semua hal tersebut harus dijadikan bahan pertimbangan. Dengan demikian, ibu akan bisa menemukan game online atau game di dalam gadget yang bisa dimasukkan ke dalam kategori game anak edukatif.

Agar Anak Bermain Game Online Sehat

Bukan hanya game saja yang harus ibu perhatikan. Ibu juga harus mengkondisikan agar game yang dimainkan oleh anak itu baik.

Hal yang harus dihindari adalah anak mengalami kecanduan game. Maka dari itu, ada beberapa tips yang membuat ibu sebagai orang tua tetap bisa membiarkan anak bermain game tanpa ada ketakutan anak mengalami kecanduan.

  • Tentukan Game

Ini hal yang sulit. Apalagi jika anak sudah tahu berbagai game, entah itu mencari sendiri atau sudah tahu dari teman-teman. Setidaknya ibu tentukan game apa yang boleh dimainkan oleh si kecil.

  • Batasi Koneksi Internet

Agar anak tidak dengan mudahnya melakukan download game yang sebenarnya ibu tidak suka untuk ia mainkan, batasi saja konteksi internet. Ibu tidak perlu mematikan jaringan internet. Cukup atur agar tidak ada yang bisa melakukan download menggunakan koneksi internet tersebut.

  • Bermain Game Di Ruang Keluarga

Jangan sekali-kali ibu membiarkan anak bermain game di kamarnya sendiri. Jika ibu biarkan, ibu tidak bisa melakukan pengawasan. Bisa saja anak justru membuka situs-situs terlarang.

Berbeda jika ibu hanya membiarkan anak bermain game di ruang keluarga di mana semua orang bisa berkumpul. Ibu juga bisa memantau setiap waktu.

  • Tentukan Waktu Bermain Game

Harus ada kompromi antara ibu dan sang buah hati mengenai kapan waktu yang boleh digunakan untuk bermain game. Ini harus ada aturan yang jelas. Ibu bisa saja memperbolehkan anak bermain game setiap hari namun harus dibatasi. Ibu bisa batasi antara jam tertentu ketika anak harus santai dan ibu biarkan ia bermain game.

Ada juga orang tua yang menerapkan aturan yang berbeda. Anak hanya boleh bermain game saat hari libur saja.

Jadi, meskipun ibu sudah memilihkan game edukatif untuk anak, tetap saja ada aturan. Ini untuk menghindari anak mengalami kecanduan bermain game.

Jadi, bagaimana menurut ibu? Apakah game gadget atau game online itu buruk untuk anak? Ini seperti pisau. Bisa buruk jika digunakan untuk melukai orang. Namun, bisa menjadi baik jika digunakan untuk memasak masakan yang lezat. Artinya, itu tergantung pada orangnya sendiri.

Jadi, bukan gamenya yang harus disalahkan, tapi ibu sendiri yang harus disalahkan ketika tiba-tiba anak kecanduan game online. Dan untuk menghindari hal tersebut, ibu sudah tahu kan apa yang sebaiknya dilakukan?

Terlepas dari hal tersebut, tentu saja akan lebih baik jika anak melakukan permainan yang bersifat fisik. Artinya, ia harus bergerak, tidak hanya duduk diam seperti ketika bermain game di gadget.

Ibu bisa menunjukkan beberapa permainan yang tak kalah seru dengan game online. Ibu bisa tunjukkan pilihan permainan edukatif di www.friso.co.id. Di sana, ada berbagai tipe permainan anak mendidik yang sesuai dengan usia sang buah hati.

umur berapa bayi bisa merangkak

Atasi dan Pahami Masalah Perut Kembung pada Bayi

Namanya membesarkan anak sudah pasti banyak tantangan  yang harus dilalui. Termasuk dari segi kesehatan, ada banyak yang ayah bunda harus perhatikan sebelum menganggap pertumbuhan si kecil dalam tahap oke. Termasuk masalah umum seperti perut kembung pada bayi, dibutuhkan komitmen dan pengetahuan dalam mengatasinya.

Jangan panik bila bayi meraung, super rewel di saat perut tidak terasa nyaman. Sebagian besar anak kecil akan mengalami masalah pada perut di usia belia. Bahkan, perut kembung sendiri sudah jadi bahan obrolan di kalangan ayah bunda. Mungkin saja pertanyaan seputar ‘apa, sih, penyebab perut kembung bayi?’ terbesit di benak orang tua.

Gas terjebak dalam perut buah hati bukan berita baru lagi. Bahkan sudah sepantasnya bayi buang angin paling tidak tiga belas sampai dua puluh satu kali dalam sehari. Apabila kurang dari standard tersebut, bayi bisa alami perut kembung yang tidak menyenangkan, baik bagi bayi maupun ayah bunda. Tubuhnya yang tergolong mini tidak akan mampu menahan terlalu banyak udara masuk, padahal dalam kegiatan sehari-hari, udara keluar masuk sangatlah biasa.

Bagi orang dewasa, kembung mungkin sebatas gangguan ketenangan perut, padahal sebetulnya perut kembung lebih dari sekedar itu saja. Malaikat kecil bunda rewel, muntah, mual, dan perut terasa keras merupakan gejala perut kembung. Tentunya ayah bunda harus melakukan sesuatu untuk atasi perut kembung pada bayi:

  1. Koreksi cara menyusui si kecil
    Seringkali posisi menyusui orang tua menekankan posisi horizontal. Dalam artian si kecil dalam posisi lurus sejajar antar kepala dan kaki. Bisa jadi bunda sendiri termasuk penganut metode satu ini. Padahal, menurut ilmu medis sendiri posisi menyusui lurus tidak selalu jadi pilihan terbaik.

    Ibarat mengisi wadah datar, air cenderung membentuk gelembung dan berkumpul dalam satu tempat. Perkumpulan udara satu tempat semakin sempit dan sesak saat wadah yang dipakai tidak mendapat ruang bagi udara untuk lepas. Hal yang serupa terjadi pada buah hati bunda setiap kalinya.

    Posisi terbaik dalam menyusui justru tidak lurus. Bunda sebaiknya menaikkan kepala lebih tinggi dari perut. Sehingga dengan cara tersebut, anak mendapat kesempatan untuk dapat udara lebih banyak. Air susu ibu secara otomatis larut dalam perut sehingga tidak memberi kesempatan sedikit saja untuk membentuk gelembung berlebihan.

    Kadang menahan bayi dengan posisi kepala diatas tidak selalu ringan. Walaupun kantong belanja bulanan jauh lebih berat dari si kecil, kalau diminta menahan selama tiga puluh menit bukan tugas mudah. Untung saja, produk bantal anak sangatlah membantu atasi problematika menyusui bunda dalam posisi yang benar. Jangan lupa sesuaikan ukuran bantal dengan tangan dan tubuh bayi.

  2. Tepuk bayi
    Salah satu gambar yang kerap terpajang pada produk bunda menyusui adalah perempuan memeluk bayi. Padahal, bisa jadi bayi sedang ditepuk-tepuk agar sendawa usai menyusui. Ya, memang di beragam belahan dunia menepuk bayi usai menyusui adalah suatu kewajiban yang tak terbantahkan.

    Dari sudut pandang medis menepuk bayi setelah jalani sesi minum air susu ibu terbukti mengurangi ‘gas’ penyebab kembung. Hal ini dikarenakan sendawa adalah petahanan tubuh dalam mengatasi persoalan kepenuhan udara dalam tubuh. Inilah mengapa udara yang mengendap dalam tubuh bayi harus segera dibuang.

    Secara teori, sekedar menepuk punggung bayi memang tergolong mudah. Namun, prakteknya tidak selalu demikian. Terkadang bayi tidak mampu bersendawa meski metode tepuk bunda dan posisi menyusui sudah benar. Rekomendasi solusi atasi bayi kembung dengan cara sendawa kedua adalah tiduran. Dalam artian, saat ayah atau bunda gagal mendorong sendawa pada bayi, cobalah membaringkan bayi sesaat dan coba kembali.

  3. Pilih dot sempit
    Tidak semua orang tua mendapat kesempatan memberi fasilitas air susu ibu eksklusif untuk si kecil. Entah urusan pekerjaan sebagai single mother atau perjuangan lawan kanker misalnya. Tak jarang, susu formula menjadi pilihan utama dalam mendorong asupan nutrisi bayi demi tumbuh kembangnya.

    Dalam kondisi tertentu, pemberian air susu ibu tidak selalu jelek. Malah, langkah satu ini diperlukan untuk pastikan bayi dalam kondisi prima. Hanya saja, alat yang digunakan mungkin kurang tepat hingga si kecil sering mengeluh kembung.

    Berdasarkan dokter Joel Lavine, professor di universitas medis Kolombia, dot merupakan kesalahan yang sangat mendasar. Tak jarang orang tua hanya perhatikan harga dot saja namun bukan lubang dot itu sendiri. Menurut ahli satu ini, dot dengan lubang besar dapat dipastikan membuat banyak gelembung sehingga berujung kembung.

    Selalu teliti sebelum membeli, rasanya slogan yang sangat pas untuk orang tua. Perhatikan tidak hanya bentuk dot, namun juga lubang itu sendiri. Cukup banyak jenis dot yang menyediakan lubang kecil, hanya saja kurang dilirik. Saat merasa ragu, cobalah bergabung dengan komunitas untuk temukan produk yang paling cocok dengan kebutuhan.

3 rekomendasi saran masalah perut kembung yang telah dijelaskan hanya berlaku untuk kasus biasa. Sayangnya, tubuh bayi tidak selalu dalam kondisi baik. Apabila orang tua mendapati buah hati kesakitan bukan main, mungkin ini saatnya berpikir ulang mengenai kondisi si kecil.

Ada perbedaan mendasar antara sakit biasa dengan luar biasa. Umumnya dapat dilihat dari ekspreksi dan frekuensi keluhan bayi. Ikuti insting ayah bunda dalam hadapi bayi. Segera periksakan pada ahlinya kala perut kembung pada bayi mulai terasa tidak normal.(HN)

Vitamin Anak Untuk Buah Hati Anda Yang Susah Makan

Mengapa vitamin anak sangat dibutuhkan untuk si kecil ? Ya sebab pada usia anak-anak merupakan usia yang paling rentan terhadap banyak penyakit. Hal ini dikarenakan anak-anak senang mencoba hal baru dan juga belum memiliki daya tahan tubuh yang cukup kuat. Jika sudah begini orang tua harus ekstra waspada untuk menjaga anak-anak dari segala jenis gangguan dari luar.

Masalah nafsu makan adalah masalah yang sering kali menyerang anak-anak. Hal ini dikarenakan anak-anak memiliki kecenderungan memilih-milih makanan. Anak-anak lebih sering memilih untuk mengkonsumsi makanan yang disukai saja dan kebanyakan makanan yang disukai tersebut tidak sehat. Anak-anak sangat menghindari jenis makanan hijau seperti sayur dan buah-buahan.

Setiap fase pertumbuhan, anak-anak pasti pernah mengalami yang namanya penurunan nafsu makan. Ini biasa terjadi pada anak-anak usia 1-5 tahun atau setelah lepas dari ASI. Dalam usia ini anak-anak memiliki banyak aktivitas baru yang selalu ingin dilakukan sehingga minat terhadap makanan menurun.

Anak-anak memiliki caranya masing-masing untuk menolak makanan yang diberikan. Mereka bisa saja mengulur waktu makan hingga memilih-milih menu makanan. Bahkan anak akan menutup mulut walaupun orang tua sudah berniat untuk menyuapinya.

Vitamin Anak Usia 1 Tahun Keatas

Untuk mengatasi masalah nafsu makan pada anak terlebih dahulu para orang tua harus mengetahui penyebab anak kehilangan nafsu makan. Berikut ini beberapa hal yang mungkin menjadi penyebab mengapa anak tiba tiba kehilangan nafsu makan ;

– Masuk dalam fase baru

Dalam rentan usia 1-5 tahun anak akan masuk dalam fase baru. Di dalam fase ini anak akan menemukan hal baru seperti mulai berjalan dan berbicara yang menyita perhatiannya. Anak akan senang dengan hal baru tersebut sehingga lupa dengan kebutuhan makan. Jika sudah begini ibu harus bekerja ekstra dalam membujuk anak untuk makan. Jika tidak, pola makan anak akan benar-benar tidak teratur.

– Mulai mengenal berbagai rasa makanan

Pada usia 1-5 tahun juga anak baru saja lepas dari ASI. Sehingga anak perlu penyesuaian dengan benda-benda baru yang masuk kedalam indera pengecapnya. Perbedaan rasa makanan dengan ASI pasti membuat anak memilih makanan yang ingin dimakan. Alhasil anak biasanya hanya mau makan yang sesuai dengan lidahnya saja. Makanan sehat seperti sayur dan buah hanya dipilih yang sesuai dengan keinginannya saja karena mereka merasa bahwa sayur dan buah tersebut tidak memiliki rasa.

– Tekstur makanan yang tidak sesuai dengan selera

Biasanya anak-anak melepeh ditengah aktivitas mengunyah makanan dimulut. Hal ini dilakukan anak karena ia merasa tekstur dari makanan tidak sesuai dengan lidahnya. Ibu kadang memberikan makanan halus seperti bubur kepada batita karena itu dirasa paling sesuai untuk anak ketika masih dalam usia pra-ASI. Akan lebih baik jika ibu lebih memperhatikan tekstur makanan yang sesuai dengan anak. Sajikan makanan yang tidak terlalu halus namun juga tidak terlalu ulet agar mudah dikonsumsi.

– Menerapkan cara yang tidak dipahami anak

Orang tua akan melakukan berbagai hal ketika melihat anaknya tidak mau makan. Adanya pemikiran bahwa anak tidak makan maka nanti bisa sakit membuat orang tua terus memaksa anak makan dengan mengatakan alasan diatas. Anak yang belum mengerti tentang sebab-akibat tidak makan yang dikatakan sebelumnya tentu tetap tidak bergeming walau sudah diingatkan.

Ibu, jika memang ingin memberikan alasan agar anak mau makan, katakan hal-hal yang ia pahami atau bujuk anak makan sambil melakukan kegiatan yang ia sukai seperti menggambar, mewarnai atau merakit mainannya. Walaupun akan sedikit rumit, namun yang terpenting makanan tersebut dapat dikonsumsi oleh anak.

Vitamin Anak Untuk Menambah Nafsu Makan Si Kecil

Untuk mendukung usaha anda dalam membujuk anak agar mau makan, anda bisa menambah vitamin anak yang bagus untuk nafsu makan. Ini bisa menjadi suplemen penunjang. Bahkan jika anda teliti, ada vitamin yang dapat memenuhi kebutuhan serat yang biasa ada dalam sayur dan buah. Beragam rasa yang disukai anak pada vitamin tentu membuat anak suka mengkonsumsinya. Selain diselingi dengan vitamin anak yang bagus untuk nafsu makan, mom juga bisa menambah nafsu makan  dengan cara alami seperti berikut ini ;

– Mengajak anak untuk berolahraga.

Jika anak banyak melakukan kegiatan maka kalori dalam tubuhnya banyak terbakar dan anak akan mudah lapar.

– Tidak membiasakan anak minum sebelum makan.

Minum sebelum makan membuat anak cepat kenyang sehingga sedikit makanan yang bisa masuk.

– Sering mengkonsumsi makanan yang mengandung vitamin C seperti jeruk.

Vitamin C memiliki manfaat meningkatkan nafsu makan dan menjaga daya tahan tubuh.

Gunakan alat-alat makan yang disukai anak sehingga anak tidak sabar menunggu saat untuk makan dan menggunakan alat makan pilihannya sendiri.

Fase menurunnya nafsu makan pada anak memang lumrah terjadi. Namun ibu jangan khawatir. Banyak cara yang bisa dilakukan agar nafsu makan anak tetap terjaga. Usahakan untuk menyajikan makanan yang sesuai dengan keinginan dan tidak membiasakan makanan yang tidak sehat untuk dikonsumsi anak sehingga selera makan anak tetap terjaga.

Ketika anak merasakan camilan yang mengandung berbagai rasa, bisa jadi itu menjadi indikator makanan yang ia sukai. Padahal bisa saja cemilan itu mengandung banyak MSG yang menyebabkan ketagihan sehingga anak tidak menyukai makanan sehat seperti sayur dan lauk-pauk. Usahakan jangan memberikan camilan sembarangan pada anak agar selera makannya tetap terjaga dan vitamin anak tetap terpenuhi.

Stop Marah-Marah, Ini Bukan Cara Mengatasi Anak Nakal Yang Tepat

Tidak ada cara mengatasi anak nakal yang paling ampuh. Karena pada dasarnya, anak itu menunjukkan ekspresi. Sayangnya, terkadang ekspresi tersebut ditunjukkan dengan cara yang kurang tepat. Dan menurut orang dewasa, hal tersebut terkesan nakal.

Akan tetapi, coba perhatikan lagi. Apa anak kecil tahu konsekuensi dari apa yang ia selalu lakukan? Jika ia sudah dewasa, tentu ia bisa membedakan antara mana yang baik dan mana yang tidak. Mana yang boleh dilakukan dan mana yang sebaiknya dihindari. Lain hal jika anak masih kecil.

Makanya, cara untuk mengatasi anak nakal itu sangat sederhana. Yang pasti, bukan dengan cara kekerasan atau marang-marah. Lalu, apa yang harus ibu lakukan ketika anak sering melakukan kenakalan?

Ketahui Dulu Mengapa Anak Nakal

Sebenarnya, definisi nakal itu abu-abu alias tidak jelas. Apakah anak balita 2 tahun yang membuang sendok makan ke lantai itu nakal? Bisa saja ia tidak tahu, kan? Apakah ketika anak melakukan hal tersebut lantas ibu harus marah? Ibu bisa jawab sendiri.

Contoh lainnya lagi. Apakah bisa dikatakan anak nakal ketika si kecil menumpahkan nasi setiap kali ia makan? Tentu tidak kan?

Maka dari itu, ketahui dulu mengapa anak melakukan sesuatu yang menurut orang dewasa nakal. Tapi coba lihat dari sudut pandang anak kecil. Barangkali anak ibu tahu bahwa hal tersebut tidak boleh ia lakukan.

  • Apakah Anak Menginginkan Sesuatu?

Pertanyaan ini harus ibu jawa terlebih dahulu sebelum memutuskan untuk marah. Kira-kira adakah hal yang diinginkan si kecil namun belum ia dapatkan?

Terkadang, anak tiba-tiba melempar mainan atau barang-barang yang ada di sekitarnya. Ini bisa saja sebagai bentuk protes karena ada keinginan yang belum ibu turuti. Coba berhenti sejenak dan ingat kembali apa yang diinginkan oleh si kecil. Apakah ada hal yang ibu janjikan dan belum ibu tepati?

  • Merasa Terganggu

Kelakuan terlihat nakal yang ditunjukkan oleh si kecil bisa saja sebagai respon karena merasa terganggu. Coba ibu lihat apakah anak sering marah-marah jika ada seseorang yang mencoba menyapa dan menggodanya? Jika itu yang sering terjadi, itu artinya anak merasa terganggu meskipun pada intinya orang tersebut tidak berniat untuk mengganggu.

Untuk kasus seperti ini, sepertinya ibu tidak perlu cari cara mengatasi anak yang nakal karena sebenarnya orang yang membuat marah tersebut tidak tahu jika hal yang ia lakukan kepada si kecil itu membuatnya terganggu.

  • Marah Sebagai Kode

Aneh jika balita usia di atas 3 tahun sering melakukan hal yang nakal seperti melempar bantal ke arah seseorang atau membuang semua mainnya di tempat sampah. Namun, bisa dipahami jika balita di bawah 3 tahun yang baru belajar bicara. Karena keterbatasannya dalam hal komunikasi, bisa saja kenakalan yang ia tunjukkan sebagai kode ingin menyampaikan sesuatu namun ia tidak bisa katakan.

Makanya, jika hal ini terjadi, ibu harus ingat kembali poin pertama. Cari tahu apa sih yang membuat anak marah? Apakah ada keinginan ingin ia dapatkan? Bisa saja tindakan membuang mainan tersebut wujud dari kebosanan dan ingin memiliki mainan yang baru. Atau mungkin saja mainannya sudah tidak sesuai dengan usianya sehingga ia merasa tidak suka lagi untuk memakainnya.

Jadi, banyak hal yang sekiranya ibu harus cari tahu sebelum mempraktikkan tips mengatasi anak nakal. Bahkan, mencari tahu penyebabnya menjadi faktor yang menentukan apakah cara yang ibu lakukan untuk mengatasi anak nakal itu efektif atau tidak.

Nakal Karena Meniru

Lho kok bisa? Tentu saja bisa. Ada banyak orang tua yang merasakan anak justru menjadi nakal semenjak ia mulai bersekolah. Usut punya usut, kenakalan tersebut dikarenakan ia menirukan hal nakal yang dilakukan teman-teman di sekolah.

Itulah mengapa setiap orang tua harus hati-hati memilih sekolah untuk anak. Bukan sekolah favorit dengan kurikulum standar internasional yang seharusnya dijadikan pertimbangan paling awal dan paling utama. Seharusnya yang dijadikan patokan utama adalah bagaimana kondisi di sekolah. Bagaimana guru-gurunya? Apakah mereka benar-benar memperhatikan kegiatan anak? Bagaimana juga dengan suasana kelas dan teman-temannya? Itu semua yang harus di review sebelum menentukan di sekolah mana anak harus ibu masukkan.

Selain itu, bisa juga anak nakal karena meniru orang tuanya. Bisa saja lho bu. Ibu tidak sadar ibu sudah mengajari anak tentang kenakalan. Pernahkah ibu melakukan hal kasar kepada si kecil, entah itu secara verbal atau non verbal? Apakah ibu pernah bertengkar dengan suami di depan anak? Apakah ibu sering mencontohkan hal yang kasar seperti membanting barang di dalam rumah? Jika hal tersebut pernah dan bahkan ibu sering lakukan, sangat wajar jika anak menjadi nakal. Ibu harus ingat anak itu peniru ulung. Dan karena ia memiliki waktu yang lebih intens dengan orang tua, ia sangat mungkin menirukan apa yang ibu lakukan.

Jadi, sebenarnya seperti apa cara mengatasi anak nakal? Yang jelas bukan dengan cara memarahinya. Justru jika ibu memarahi anak, hal tersebut bersifat kontra produktif. Bukannya anak jera dan tidak lagi melakukan kenakalan, justru anak semakin nakal.

Dua hal yang perlu ibu lakukan. Pertama, ketahui apa yang membuat anak melakukan hal yang nakal. Kedua, contohkan hal-hal yang baik. Anak itu peniru yang ulung. Jadi, biarkan ia menirukan hal yang baik, bukan hal yang buruk. Sudah tahu kan cara mengatasi anak nakal yang efektif?

Memilih Permainan Anak 2 Tahun Itu Seperti Apa Ya?

Ibu bisa temukan banyak sekali jenis permainan anak 2 tahun. Ada juga kategorinya. Ada kategori permainan individu dan kelompok. Kedua kategori tersebut tentu saja baik untuk ibu pilih. Namun, jangan terburu-buru. Ada baiknya dengarkan dulu masukan dari psikolog anak mengenai jenis permainan yang disarankan untuk dimainkan anak usia 2 tahun.

Jenis Permainan Untuk Anak 2 Tahun

Ada banyak sekali jenis permainan anak usia 2 tahun. Akan tetapi, setidaknya ibu sebagai orang tua harus tahu 5 jenis permainan berikut ini.

  1. Permainan Fantasi

Ibu tahu mengapa anak sering bercerita sendiri? Pada dasarnya, itu adalah cara si kecil berekspresi sekaligus belajar bicara. Karena pada usia 2 tahun, ia sedang mulai belajar bicara dan memperkaya kosakata.

Namun, ada satu hal yang aneh menurut orang awam. Mengapa anak sering bercerita sendiri? Bagi orang dewasa, itu hal yang aneh. Namun tidak bagi balita 2 tahun. Saat ia bercerita sendiri, ia sedang berfantasi. Ia membayangkan ada seseorang yang ia ajak bicara.

Dalam hal ini, ibu harus tahu semakin tinggi fantasi anak, itu menujukkan kecerdasannya tinggi. Jadi, biarkan anak berfantasi. Justru akan lebih baik jika ibu memberikan permainan yang membuatnya lebih mudah berfantasi. Contoh sederhana saja, ibu bisa belikan alat dokter-dokteran, anak masak memasak, atau apa saja yang membuat anak bermain dengan angan-angannya.

  1. Permainan Imitative

Imitative artinya mencontoh atau menjiplak. Banyak jenis permainan untuk anak 2 tahun yang sifatnya imitative. Contohnya saja menari dan bernyanyi.

Bagi anak kecil, imitative ini langkah agar anak suatu saat nanti bisa memiliki sisi kreatif. Ibu harus tahu tidak ada orang yang tiba-tiba kreatif. Pasti ada sisi di mana ia mulai belajar untuk kreatif. Dan awalnya ia sebenarnya lebih sering meniru atau melakukan imitasi. Dengan membiarkan anak sering melakukan imitasi, diharapkan ketika dewasa nanti ia akan mengubah hal-hal yang ia imitasi tersebut sehingga menjadi berbeda. Itulah masa di mana sisi kreatif anak akan muncul.

Dan satu catatan lagi yang harus ibu ketahui. Memiliki anak pandai itu mudah. Asalkan ibu menyekolahkan anak di sekolah yang terbaik, sudah bisa dipastikan anak tahu banyak hal. Anak menjadi pandai. Namun, sulitnya bukan main untuk mencetak anak yang kreatif. Dibutuhkan stimulus yang tepat. Salah satunya dengan memberikan permainan balita 2 tahun berupa media menggambar, seperti kertas, pensil warna, dan lain sebagainya. Sediakan satu buku yang berisikan gambar-gambar menarik. Biarkan anak menirukan gambar tersebut sekalipun hasilnya sangat jauh dari kata sempurna.

  1. Permainan Kooperatif

Ini jenis permainan anak usia 2 tahun yang sangat amat penting. Sayangnya, banyak orang yang tidak menyadarinya. Mereka justru membuat anak tidak terbiasa untuk kooperatif atau bekerjasama. Lihat saja lebih banyak mana anak yang main gadget dengan anak yang bermain di lapangan bersama-sama? Bahkan, tidak jarang saat anak berkumpul mereka bermain gadget sendiri. Ini jelas kesalahan orang tua yang terlalu dini memberikan gadget.

Permainan kooperatif merupakan permainan yang membuat anak bisa bekerjasama dengan teman lainnya. Contohnya saja permainan bola, menyusun balok bersama, dan lain sebagainya.

Bagi ibu yang memiliki anak yang menginjak usia hampir 3 tahun, anak harus sudah bisa terbiasa untuk bersosialisasi dengan anak-anak yang lain. Apalagi anak sebentar lagi masuk PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini). Harus dipastikan kemampuan sosialisasi anak harus baik. Dan hal tersebut bisa dilakukan ketika anak sudah terbiasa memainkan permainan untuk balita 2 tahun yang bersifat kooperatif.

  1. Permainan Fisik

Bermain bola, berlari, naik sepeda, serta memasak adalah jenis permainan fisik. Berbeda dengan bermain game online. Permainan fisik adalah permainan yang melibatkan gerak motorik kasar maupun halus. Ini gerakan yang harus dilatih. Seperti yang dijelaskan oleh pakar perkembangan anak di www.ibudanbalita.com, jelas sekali betapa penting anak untuk bergerak. Hal ini disebabkan permainan fisik seperti itu bisa memaksimalkan perkembangan anak.

  1. Permainan Soliter

Memang ada permainan yang hanya bisa dimainkan oleh anak sendirian. Tentu tidak mungkin anak sekali bermain bersama teman-temannya, kan? Ada kalahnya anak harus bermain sendiri di rumah. Contohnya saja ketika sedang hujan. Tentu ibu harus mengkondisikan agar anak tetap berada di dalam rumah. Maka dari itu, siapkan jenis permainan anak 2 tahun soliter. Contohnya saja menggambar, mewarnai, menulis, memasang balok sendiri, dan lain sebagainya. Permainan itu bisa dimainkan di dalam rumah tanpa harus melibatnya teman-teman yang lain.

Jadi, permainan mana yang sudah dan belum ibu berikan untuk si kecil?

Permainan Tidak Harus Mencerdaskan

Ada istilah permainan edukatif. Konotasinya, permainan tersebut pasti membuat anak pintar.

Sayangnya, pintar itu tidak segalanya. Seperti yang sudah disinggung sebelumnya, anak juga harus kretif. Ini tidak sama dengan pintar.

Yang lebih penting lagi, anak harus sehat. Maka dari itu, permainan yang sangat disarankan oleh psikolog anak adalah permainan fisik. Anak harus bergerak karena pada usia 2 tahun gerakan anak harus lebih optimal. Ini berkaitan dengan motorik kasar dan halus anak.

Jadi, permainan edukatif tidak hanya sebatas permainan yang membuat anak pintar. Lebih dari itu, anak harus kreatif dan sehat. Bukankah itu yang ibu inginkan? Maka dari itu, segera dapatkan jenis permainan anak 2 tahun yang baik dimainkan oleh sang buah hati.

Memilih PAUD Ternyata Tidak Mudah Lho

Banyak orang tua yang terlalu serius ketika memilih PAUD atau Pendidikan Anak Usia Dini. Mereka ingin memastikan sang buah hati mendapatkan pendidikan yang terbaik.

Tentu hal tersebut tidak salah. Sayangnya, terkadang saking seriusnya, pandangan atau persepsi orang tua ketika memilih sekolah untuk anak menjadi kurang obyektif. Contohnya saja memilih berdasarkan kurikulum. Tentu sangat menggiurkan ketika mendengar anak teman sekolah di sebuah lembaga pendidikan anak usia dini dan pintar mengaji atau membaca. Dan ini sering menjadi pertimbangan utama.

Ibu juga boleh memilih sekolah PAUD berdasarkan kurikulum yang diterapkan. Namun, tidak seharusnya kurikulum dijadikan satu-satunya pertimbangan. Ada hal lain yang juga penting untuk dijadikan bahan pertimbangan.

Menimbang-Nimbang Saat Memilih PAUD

Selain kurikulum, ada hal yang sering luput untuk dijadikan bahan pertimbangan.

  1. Situasi Sekolah

Apakah lingkungan sekolah aman? Apakah ada gerbang yang membuat anak pasti aman dan tidak lari ke luar area sekolah? Bagaimana kondisi ruangan kelas? Apakah ruangan sejuk atau lembab?

Dan banyak lagi pertanyaan yang harus ibu cari sebelum memutuskan memilih lembaga pendidikan anak usia dini. Tentu sangat tidak mungkin anak bisa pintar jika kondisi lingkungan sekolah tidak mendukung. Maka dari itu, cek dulu lokasi sekolah. Kemudian pulang ke rumah dan pikir lagi apakah situasi sekolah bersih, aman, dan sehat.

  1. Tenaga Pengajar

Bagaimana kurikulumnya, pendidikan tidak akan berjalan sebagaimana mestinya jika tenaga pengajarnya tidak qualified. Tentu berkualitas atau tidaknya seorang guru tidak hanya ditentukan oleh ijasah yang mereka miliki. Pengalaman mengajar serta kemampuan mereka dalam mengajar menjadi hal yang lebih berpengaruh dibandingkan dari mana sertifikat mengajar mereka dapatkan.

Sayangnya, sangat sulit untuk menilai tenaga pengajar. Maka dari itu, banyak orang tua yang melakukan survey kecil-kecilan terlebih dahulu. Ibu bisa coba tanya kepada teman, saudara, atau kenalan yang anaknya sekolah di PAUD. Ibu juga bisa bertanya kepada anaknya secara langsung apakah ia suka sekolah di PAUD tersebut atau tidak. Jika ia suka diajar oleh pengajar di sana, maka bisa dipastikan tenaga pengajar memiliki kemampuan mengajar yang tidak perlu diragukan lagi.

  1. Jumlah Anak Dalam Satu Kelas

Terkadang, ada lho sekolah yang overload. Di dalam satu kelas, terdapat lebih dari 20 anak. Bahkan, ada satu kelas yang terdiri dari 30 anak. Tentu ini kondisi yang kurang bagus. Bagaimanapun juga, anak PAUD membutuhkan pengawasan ekstra ketat. Mana mungkin satu guru bisa mengawasi 30 anak dalam satu kelas?

Ada baiknya ibu mencari PAUD yang sudah mematok di dalam satu kelas hanya terdapat sekitar 10-15 anak saja. Memang terkadang biaya sedikit lebih mahal. Namun, kalau berbicara tentang pendidikan, tentu ibu tidak mau setengah-setengah, bukan?

  1. Mengajak Anak Untuk Memilih Sendiri

Jangan salah ya bu. Meskipun si kecil masih berusia 3 atau 3,5 tahun, ia sudah bisa memilih. Setidaknya ia sudah bisa merasakan apakah ia nyaman atau tidak.

Maka dari itu, sebaiknya ibu ajak si kecil untuk memilih sendiri. Ajak anak untuk mengunjungi beberapa sekolah sambil ibu bertanya kepada pengelola sekolah PAUD mengenai biaya perbulan, fasilitas, kurikulum, dan lain sebagainya. Ibu juga perhatikan bagaimana respon anak. Ibu bisa biarkan anak bermain di sekolah yang ibu kunjungi. Jika ia terlihat nyaman dan senang, mungkin itu adalah sekolah yang terbaik untuk sang buah hati. Setidaknya, anak akan dengan senang hati mau berangkah ke sekolah setiap pagi.

Jadi, memilih sekolah PAUD itu tidak hanya berdasarkan kurikulum saja ya bu.

Apa Pentingnya Anak Belajar di PAUD

Banyak orang tua yang merasa tidak perlu memasukkan anak ke PAUD. Tunggu saja hingga usianya 4 tahun, Ia bisa langsung masuk ke TK atau Taman Kanak-Kanak. Semoga ibu tidak memiliki anggapan yang sama seperti itu.

Harus dipahami apa fungsi dari PAUD. Ini bukan lembaga pendidikan yang bisa membuat anak cerdas lebih cepat. Bukan itu tujuan PAUD. Ini merupakan sekolah yang mengajarkan anak bagaimana bersosialisasi dengan teman-teman yang lainnya. Bisa dikatakan ini adalah sekolah persiapan. Setidaknya, ketika anak sudah sekolah di PAUD, ia tidak lagi takut dan canggung saat sudah sekolah di TK dan juga SD.

Oleh sebab itu, kurikulum yang ditetapkan di PAUD itu kurikulum bermain bersama. Seorang guru PAUD mengajarkan bagaimana anak sudah mulai berani, percaya diri, dan bisa bersosialisasi dengan teman-teman yang lainnya.

Pada intinya, PAUD itu sebuah lingkungan sekolah yang bisa membuat anak belajar beradaptasi secara sosial. Jadi, apakah menurut ibu PAUD itu tidak penting?

Banyak kasus terjadi di mana anak tidak mau masuk sekolah TK. Ia malu, takut, dan lain sebagainya. Akhirnya, orang tua harus menemani anak di sekolah. Tentu ini kurang bagus untuk tumbuh kembang anak.

Maka dari itu, agar anak memiliki keberanian, ibu harus sekolahkan anak di PAUD. Pilihkan lembaga pendidikan anak usia dini yang terbaik sesuai dengan kriteria yang sudah dijelaskan sebelumnya. Terkadang, biaya untuk PAUD memang jauh lebih mahal dibandingkan dengan TK atau bahkan SD. Itu memang wajar. Pasalnya, tenaga pengajar harus ekstra sabar mendidik anak yang bisa dikatakan masih sangat kecil. Apalagi terkadang ada anak yang masih pipis atau buang air besar di celana. Ada juga anak yang menangis setiap kali bermain di dalam kelas. Maka dari itu, ibu harus pastikan PAUD yang ibu pilih merupakan yang terbaik untuk sang buah hati.

5 Pola Pikir Wajib Seputar Olahraga untuk Balita Anti Cidera

Olahraga untuk balita sedang naik daun di seluruh dunia. Banyak kelas mulai digelar khusus untuk malaikat kecil bergerak bersama. Memang, olahraga telah terkenal dengan manfaat yang menggiurkan, mulai dari pertumbuhan optimal, ditambah dengan embel-embel umur panjang. Inilah kenapa bukan ide buruk kalau anak diajak olah tubuh di usia muda.

Manfaat olahraga tertutupi dengan adanya resiko cedera. Bahkan studi terkini menunjukkan bahwa tiga juta lebih anak berusia dibawah empat belas tahun mengalami cidera serius karena olahraga. Tentunya orang tua tidak ingin niat baik mendaftarkan kelas olahraga berbuah sia-sia. Karenanya, akan sangat bijak bila pola pikir yang dapat mendorong kemungkinan balita olahraga anti cidera berikut ini dipraktekkan dengan benar.

  1. Jangan berharap lebih
    Obrolan di kalangan ayah bunda terkadang fokus pada dampak yang diberikan olahraga tertentu. Misalkan saja postingan di forum ibu hamil seputar anak menjadi lebih berani usai mengikuti kelas karate, mendorong orang tua untuk turut serta. Tanpa bertanya pendapat balita, atau mungkin biarkan dirinya mencoba sekali, ayah bunda langsung komitmen terhadap kelas karate.

    Inilah kenapa pola pikir olahraga untuk balita harus diluruskan. Tujuan dari olah tubuh adalah melatih struktur tubuh bayi. Kalaupun ada karakter baru yang terbawa dari melakukan olahraga tersebut sebetulnya tergolong bonus. Janganlah berharap tinggi hasil akhir si kecil akan sama dengan yang lain. Apalagi kalau ayah bunda cenderung memaksa balita untuk ikut kelas tertentu.

 

  1. Buang buku manual dan piala
    Anak kecil hanya ingin bersenang-senang. Dalam benak buah hati berteman jauh lebih penting dibanding piala bersinar yang terpajang di panggung. Mungkin saja ayah bunda termasuk tipe orang tua gregetan kalau anak tidak meraih peringkat pertama. Ambil nafas, dan tanyakan pada diri sendiri, ‘apakah anak atau saya yang ingin menang?’

    Penelitian menunjukkan kebencian seseorang terhadap olah tubuh disebabkan pengalaman masa kecil. Merasa dirinya pecundang hanya karena tidak bisa menjebloskan gawang, sebagai contoh pemicu rasa tak senang dengan aktivitas fisik. Kondisi akan makin parah kalau sejak kecil ayah bunda bertindak keras pada balita yang tidak memenangkan pertandingan.

    Aturan dibuat untuk ditaati mereka yang sudah mencapai usia pantas. Janganlah memaksa buah hati untuk menuruti setiap jengkal perkataan dalam buku manual. Biarkan buah hati bertindak sesukanya bersama dengan teman sebayanya saat berolahraga. Selama tidak terjadi pertengkaran sengit antar balita, sebenarnya tidak masalah. Ditambah lagi, balita dengan tingkat kecerdasan diatas rata-rata cenderung pintar memimpin.

  2. Target tidak penting
    Orang tua boleh saja memiliki visi dan misi untuk masa depan buah hati. Bahkan, ada pula ayah atau bunda ambisius yang langsung mendaftarkan anak pada satu jenis olahraga. Tak jarang, orang tua tipe tersebut mendorong anak untuk fokus dan taat terhadap setiap aturan dan jadwal latihan.

    Jangan buru-buru menentukan masa depan dan minat si kecil. Terdengar sepele dan pasrah, namun nyatanya masa depan buah hati masih sangat panjang. Memaksa buah hati melakukan satu jenis olahraga saja dapat menimbulkan cedera. Sebagai contoh, anak yang dipaksa main bola supaya jadi Ronaldo berikutnya, dapat mengalami masalah serius pada kaki dan tubuh yang tidak imbang.

    Biarkan anak mencoba beragam aktivitas merupakan ide yang bagus. Kalau perlu, tidak perlu komit daftarkan si kecil pada satu jenis olahraga untuk satu tahun kedepan. Berikan malaikat kecil ayah bunda kesempatan bersenang-senang dengan tubuhnya. Misalkan saja, minggu ini buah hati menjadi penari, dan minggu berikutnya perenang. Hal terpenting adalah senyuman bahagia si kecil, bukan?

  3. Libur
    Anak kecil tergolong moody dimana perasaannya sangat gampang berubah setiap waktu. Masa dimana buah hati tidak mau datang ke kelas balet favoritnya atau melempar bola kesukaan akan tiba. Entah apa yang terjadi, seberapa kesal ayah bunda harap diingat, jangan sampai cari ribut, biarkan fase satu ini berlangsung dan usai dengan sendirinya.

    Kalau memang si kecil hanya ingin duduk di rumah menonton televisi kesukaan, biarkan saja. Tidak ada yang salah dengan buah hati ingin duduk, capek lari kesana kemari. Alih-alih memaksa, cobalah ikuti maunya, dan dorong pelan-pelan untuk kembali olahraga bila ada kesempatan bagus untuk berbicara dua mata.

    Perlu diingat, secara garis besar ada 2 alasan mengapa buah hati tidak mau pergi ke kelas olahraga favoritnya. Orang tua sebaiknya berharap anak hanya dalam fase bosan dan akan selesai dengan sendirinya. Kemungkinan kedua yang tidak terlalu menyenangkan adalah anak tidak ingin pergi ke tempat olahraga karena balita yang ada disana.

    Balita sangat mungkin mengalami luka di hati. Entah karena ejekan, atau perkataan tidak menyenangkan dari orang lain. Intinya, balita merasa tidak nyaman berada dalam lingkungan tersebut. Manapun itu, orang tua wajib temukan alasan balita tidak mau pergi terlebih jika berlangsung lebih dari sebulan dan semua tawaran kelas olahraga lain ditolak mentah-mentah.

Apabila dirangkum, intinya adalah orang tua jangan terlalu ketat. Biarkan balita bersenang-senang dan menikmati masa kecilnya. Jangan lupa, imbangi aktivitas padat buah hati dengan asupan gizi yang cukup. Tenang tidak perlu melalui dilema kesulitan memberi makan sebelum sesi olahraga untuk balita. Cukup dengan memberi minum segelas susu Frisian flag karya sehari sekali sudah sangat membantu memenuhi kebutuhan gizi si kecil.(HN)