Belajar Sejarah Perkembangan Kebudayaan Islam Modern di Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) Semarang

Belajar Sejarah Perkembangan Kebudayaan Islam Modern di Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) Semarang

Belajar Sejarah Perkembangan Kebudayaan Islam Modern di Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) Semarang

Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) Semarang diresmikan tahun 2004 walaupun faktanya telah digunakan untuk beribadah pada tahun 2004. Adapun kegiatan ibadah yang pertama kali dilakukan di masjid ini adalah Salat Jumat dengan khatib Drs. H.M. Chabib Thoha, M.A., tanggal 19 Maret 2004.

MAJT mulai dibangun pada Jumat, 6 September 2002. Awal pembangunan ditandai dengan peletakan batu pertama pada hari itu. Peresmian masjid dilaksanakan pada tanggal 14 November 2006 oleh Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono.

Terletak di Jalan Gajah Raya Semarang, MAJT bisa menampung kurang lebih 16.000 jemaah. Luas kompleks masjid totalnya 10 hektare.

Mengenai estetika bangunannya, MAJT memadukan gaya Jawa, Islam, dan Romawi.Perancangan bangunan diserahkan kepada arsitek Ir. H. Ahmad Fanani dari PT Atelier Enam Jakarta.

Bangunan utama masjid atapnya berbentuk limas. Ini sesuai dengan bentuk rumah khas Jawa. Akan tetapi, ada kubah besar dengan empat menara di atap tersebut. Kubah dan menara ini mengambil inspirasi gaya arsitektur peradaban Islam.

Pilar-pilar MAJT total 25 pilar terinspirasi dari koloeum Athena di Romawi. Ke-25 pilar itu menyimbolkan 25 Nabi dan Rasul. Setiap pilar dihiasi kaligrafi sehingga bisa dikatakan bahwa pilar itu mencerminkan akulturasi budaya Romawi-Islam.

Dua kalimat syahadat dapat ditemukan di gerbang utama MAJT.Ungkapan bahasa Jawa “Sucining Guno Gapuraning Gusti” tertulis di bidang datar dengan huruf Arab Melayu.

MAJT memang tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah tetapi juga tempat wisata religius. Para pengunjung masjid disediakan 23 kamar penginapan.

Para wisatawan bisa melihat-lihat pusat perkembangan budaya Islam di Menara Al Husna. Menara MAJT itu tingginya 99 meter serta terdiri dari beberapa lantai. Lantai dasar berfungsi sebagai studio Radio Dakwah Islam (Radio Dais). Lantai 2 dan 3 adalah Museum Kebudayaan Islam. klik di sini untuk info sewa mobil di Semarang Murah.

Sementara itu, lantai 18 Menara MAJT ditempati Kafe Muslim. Kafe tersebut dapat berputar 360 derajat. Menara pandang terletak di lantai 19. Lima buah teropong untuk mengamati langit maupun Kota Semarang dipersiapkan di lantai tersebut. Pemuka Agama Islam memanfaatkan teropong-teropong itu untuk melihat Rukyatul Hilal yang dijadikan tanda bermulanya Ramadan 1427H.